Langsung ke konten
Sagiyo
Kembali ke Jurnal
2 menit baca

ETIKA PANDEMI

Bagikan:

Razia selama pandemi korona tidak terhitung jumlahnya. Namun, sebanyak itu pula kita dapati pelanggaran. Atau, lebih tepat dikatakan penyimpangan protokol kesehatan: lupa pakai masker, malas cuci tangan pakai sabun dan tidak bersedia antri atau tidak peduli jarak fisik..Aparat dan Gugus tugas Covid sudah cukup sabar, sesungguhnya, mengingatkan. Bahkan ada sebagian yang terpancing emosi hingga melakukan kekerasan verbal maupun fisik. Misal, berupa umpatan idiot. Atau cubitan gemas ke muka pejalan atau pengendara –yang tanpa beban moral– melenggang tanpa masker..Sesungguhnya ini problem etika. Problem yang kelewat serius. Benar bahwa semua pihak merasakan pandemik ini berat –bahkan secara ekonomi hampir semua jadi korban. Namun di masyarakat yang krisis bahkan minus etika, cara-cara dan protokol apapun akan sulit diterima dan diberlakukan efektif..Etika yang saya maksud itu norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik. Etika dan moralitas saling tidak terpisahkan. Etika individu dan sosial yang terang sekali dikala pandemi adalah protokol kesehatan diatas. Menerapkan etika “new normal” ini, rasa-rasanya seperti menegakkan benang basah!.Namun kita beruntung memiliki nasehat kuno: Penyimpangan diakibatkan adanya niat dan kesempatan. Karenanya, saya percaya dengan dua jalan keluar –walau ini tidak lekas menghasilkan..Pertama, jalan pendidikan –untuk meluruskan niat– dimana setiap sekolah, institusi dan keluarga serta media massa/media sosial harus bisa menginternalisasi nilai-nilai etik new normal..Targetnya: pada setiap kepala seorang anak di sekolah maupun anggota keluarga dirumah harus tertanam kesadaran, bahwa: piranti sabun dan masker serta sikap disiplin jarak phisik adalah jalan keselamatan..Selanjutnya, jalan kedua –untuk menutup lobang kesempatan– memproduksi secara luas regulasi turunan protokol kesehatan diseluruh ruang publik. Hal ini demi menjamin bahwa seseorang tidak akan tertulari wabah korona dan menulari orang lain. Dan sekaligus tersedia sumber daya aparatur yang menegakkannya. Aturan tidak akan efektif tanpa adanya law enforcement..Saya percaya, kita masih bisa menegakan benang basah. Dan salah satu harapan kita terletak pada pengajaran dan penegakan etika pamdemi. Tanpa etika yang berakar kokoh maka wacana new normal life tidak mampu  menahan korban terus tumbang berjatuhan.

Aparat, tenaga kesehatan dan relawan di berbagai wilayah mensosialisasikan protokol kesehatan selama pandemi korona