Setiap zaman memiliki tantangannya masing-masing. Para Adipati atau Bupati Banjar Petambakan, Banjar Watulembu hingga Banjarnegara –sejak 1571 hingga kini– telah mengerjakan bagian tugas sejarahnya dengan baik..Mereka benar-benar menjadi elan vital bagi kemajuan masyarakat. Mereka dengan sepenuh kekuatan kreatif dan dinamik yang tersedia, berusaha mengatasi masalah demi masalah dan melahirkan ide-ide visioner, antara lain: konservasi, kebudayaan, ketahanan pangan, industri, emansipasi, kerakyatan, toleransi, infrastruktur, perpindahan ibu kota dan lainnya..Pun mereka –sebagai pemimpin– tampil menjadi teladan hidup mulia nan sederhana bagi kalangan pejabat dibawahnya dan masyarakat luas. Idealnya, memang, setiap pemimpin dilevel pemerintahan wajib memiliki empat karakter luhur agar amanah yang digenggam bermartabat dan bermanfaat. Yakni: sama, dana, beda dan denda!.Artinya, seorang pemimpin harus bisa egaliter (sama) dengan semua dan dermawan dengan hartanya (dana). Juga mampu memilah (mem-beda-kan) tiap urusan dengan jernih dan memutus perkara dengan adil. Serta tegas [bukan tegel lan nggragas] atas hukum pidana (denda) mati sekalipun bila jatuh dan menimpa keluarga sendiri.
Suatu kali, Ki Dalang Junaidi, M.Si yang dosen ISI Jogja saat pentas Hari Jadi tahun 2017 dengan tajuk “Puntadewa Jumeneng Nata” di alun-alun kota memberi pitutur: bahwa pemimpin yang baik –dalam jagad pewayangan– digambarkan sebagai raja-pinandita yang mewarisi watak “Hasta Brata”. Hasta brata berarti delapan sifat alam, yakni:.MATAHARI yang selalu memberikan pencerahan tanpa membeda-bedakan. BULAN yang teduh dan menciptakan ketenangan. BINTANG yang memberikan keindahan sekaligus arah perjalanan. SAMUDERA yang rela penuh menghimpun beragam anak- sungai perbedaan menjadi kesatuan yang dinamik..TANAH yang selalu ‘nrima’ dan menumbuhkan kecambah gagasan. API yang senantiasa berkobar memberi gelora semangat. AIR yang luwes dimanapun tempatnya berada dan mampu menetralkan suasana. Dan ANGIN yang terus bergerak dan hadir disegala ruang..Begitulah semestinya, sikap dan karakter para pemimpin kita: Sapere Aude! Sebuah frase Latin –yang pernah diguncangkan oleh Filsuf Immanuel Kant–yang kurang lebih berarti: Setiap pemimpin harus berani tahu, berani bijak, atau berani berfikir mandiri..
DIRGAHAYU KE-449 KABUPATEN BANJARNEGARA, 26 PEBRUARI 1571-2020 : SAPERE AUDE!
Tokoh wayang purwa Puntadewa atau Yudhistira. Putra Pandu Dewanata yang dianggap sebagai model ksatria-pinandita dikalangan pemimpin dan masyarakat Jawa.