Langsung ke konten
Sagiyo
Kembali ke Jurnal
3 menit baca

MIJAH

Bagikan:

Pada sepotong sore. Air Sungai Parakan Kecamatan Purwanegara mengalir setinggi lutut. Tidak keruh. Tidak pula jernih. Langit sore musim kemarau bulan juli –bagai disapu– biru sangat cerah.

Dibawah rindang pohon bambu tali yang menjurai ke sungai. Tampak rapi kolam-kolam batu di tepi kanan-kiri sungai. Tersusun dari batu kali ukuran besar, sedang dan kecil. Bentuk kolamnya oval. Mirip kolam taman diperumahan. Berjejer. Sporadis.

Kolam batu ini bukan taman. Tapi perangkap ikan. Istilah lokalnya disebut “mijah”. Secara tradisional penduduk ditepi di sungai Serayu, sungai Sapi atau sungai Parakan di Banjarnegara, memanfaatkannya untuk memanen ikan sungai. Ikan-ikan sungai dikenal citarasanya lebih segar dan gurih.

Bagaimana membikin kolam mijah?

Kolam perangkap yang kokoh, perlu batu besar didasar sungai. Berfungsi semacam pondasi kolam agar tidak roboh diseret arus pasang. Lalu di atasnya disusun batu sedang dan untuk menjadikan rapi dan rapat, ditata batu lebih kecil diatasnya. Apabila susunan diantara batu masih berlubang, dilesakkan ‘klaras’ (daun pisang kering) untuk menutup celah agar benar-benar rapat. Butuh waktu sehari sebanyak dua orang membikin kolam mijah.

Kolam mijah memiliki 2-3 mulut lubang. Diletakkan searah arus sungai. Mulut ini tempat memasang ‘wuwu’ –nama perangkap ikan dari anyaman bambu. Wuwu inilah yang mewadahi ikan-ikan yang terperangkap. Terutama ikan-ikan yang bermaksud hendak bertelur dan menempelkannya sisi bagian dalam batu-batu kolam.

Memasang wuwu tidak boleh terbalik. Perangkap ini dipasang didasar lubang. Kemudian ditindih dengan batu. Lalu disusupi klaras hingga rapat. Ditindih batu lagi hingga rata punggung kolam. Terakhir, punggung kolam ditutup dengan bleketepe atau daun pohon nira yang dianyam. Ada pula mijah yang dibiarkan terbuka.

Oh, ya. Jangan lupa, air dalam kolam diusahakan cukup setinggi mata kaki. Dan bersih dari lumpur. Perilaku ikan yang mau bertelur –yang mau memasuki kilang mijah– tidak suka air kotor dan arus deras. Diperlukan keahlian mengatur bendungan batu untuk mengatur ketinggian arus.

Tradisi dan keahlian mijah oleh penduduk kebanyakan diperoleh secara otodidak. Turun temurun dari ayahnya. Bahkan, dari kakeknya. Misalnya Sodikin, warga Desa Mertasari sudah belajar memijah sejak usia belasan. Ketika itu, ia suka ‘nginthil’ (mengikuti) ayahnya mijah. Hingga usia sepuh, hobby mijah ini menjadi keasyikan yang setia dijalani.

Sepotong sore kemarin, kakek sepuh ini sigap ucul-ucul klambi. Byurr.. Lalu turun ke sungai. Kaki tuanya masih lincah. Telapaknya yang keriputnya begitu hafal memilih batu pijakan dikedalaman sungai. Lengan tipisnya terampil memasang wuwu.

Begitu pula saat membongkar wuwu. Ditengah malam. Gelap. Hampir tiada ragu menahan dingin. Mengalir bagai naluri.

Apabila Dewa Keberuntungan memihaknya, satu kolam mijah dalam semalam bisa menangkap lebih dari 10 kg ikan. Jenis paling banyak adalah ikan brek (sejenis ikan tawes kali). Warna sisiknya keperakan. Rasanya gurih nylekamin bila digoreng kering. Juga mangut (sejenis ikan melem kali). Harganya lumayan. Sekitar Rp 35 ribu-40 ribu/kg.

Namun, hidup itu tidak selamanya beruntung. Tidak jarang pula mijah setengah malam hanya zonk. Alias kosong.

Kakek Sodikin penduduk Desa Mertasari mijah ikan sejak usia belasan di Kali Parakan